|
Tuesday, October 02, 2007
Sekilas Tentang Gandang Dewata
Tanete (Gunung) Gandang Dewata (3037 mdpl) terletak di pegunungan Gandang Dewata, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Kabar kehebatan mistis orang-orang Mamasa telah tersiar kemana-mana. Konon, orang-orang Mamasa mampu membangkitkan mayat dan membuatnya berjalan sendiri. Kota Mamasa terletak sekitar 252 km dari Kota Makassar yang dapat di tempuh dengan kendaraan Bus dan mobil penumpang dengan biaya 75.000 rupiah. Perjalanan dari Makassar menuju Polewali memakan waktu 6 jam, setelah itu memasuki jalanan yang rusak berat sehingga perjalanan dari Polewali menuju Mamasa yang seharusnya dapat di tempuh dalam waktu 3 jam, kini menjadi 6 jam.
Hasil pertanian Kabupaten Mamasa diantara padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang kedelai. Adapun hasil perkebunannya di dominasi oleh kopi dan kakao. Kopi yang berasal dari kabupaten ini terkenal berkualitas baik. Sedangkan dari sektor peternakan adalah ternak sapi, kerbau, kuda, kambing dan babi.
Gandang Dewata berasal dari dua kata, yaitu gandang yang artinya gendang dan dewata yang artinya dewa. Puncak Tanete Gandang Dewata, dari jauh, terlihat seperti batu besar yang berbentuk bulat menyerupai gendang raksasa. Pada hari-hari tertentu, penduduk di kaki gunung kerap mendengar suara gemuruh yang merupakan suara dari gendang raksasa tersebut. Mitos ini tetap terpelihara sampai hari ini, sehingga sebagian besar penduduk setempat menganggap gunung ini sebagai gunung mistis. Oleh karena itu, setiap penggiat alam bebas yang berniat mendaki ke gunung ini diharuskan menjaga kelakuan serta tutur katanya selama pendakian untuk bisa terhindar dari malapetaka. Rute pendakian yang umum dilalui oleh penggiat alam bebas ialah rute pendakian via Mamasa. Rute ini cukup jelas dan aman, karena di sepanjang jalur memiliki tanda berupa string line yang cukup jelas terlihat. Hal ini dapat menghindarkan para penggiat alam bebas dari tersesat. Rute lain adalah rute pendakian via Mamuju. Rute ini kurang diminati, karena selain lebih jauh jalurnya pun tidak jelas. Klik di bawah ini untuk mendapatkan informasi lainnya * Data Gunung Gandang Dewata * Foto-foto perjalanan ke Gunung Gandang Dewata
Sunday, September 30, 2007
Mendaki sebuah gunung bukanlah hal yang mudah dan dapat disepelekan. Di butuhkan perencanaan yang matang sebelum melakukan perjalanan ini. Salah satu hal yang perlu di rencanakan adalah persiapan ransum. Berikut contoh perhitungan gizi yang di perlukan dalam mendaki.
Energi yang
dibutuhkan pada kegiatan alam 60 kalori
Rincian kebutuhan
nutrisi per hari adalah sebagai berikut :
-
65 % Karbohidrat (HA)
-
20 % Lemak
-
10 – 15 % Protein
Rincian Berat badan
|
No
|
Nama
|
BB (kg)
|
|
1
|
Gihon
|
45
|
|
2
|
Asri A.N.
|
49
|
|
3
|
Bryan Barnez
|
65
|
|
4
|
Legi
|
55
|
|
5
|
Winarni
|
48
|
|
6
|
Buyung M
|
50
|
|
|
Jumlah
|
312
|
Jumlah Berat
Badan Total = 312 kg
Jumlah Berat
Badan Rata-rata = 312 / 6 = 52 kg
Total Energi
Perhari
Etotal =
Kebutuhan Kalori X Berat badan
=
60 kalori X 312 kg
Etotal = 18720
kalori
Total Protein
Etotal =
15% X jumlah kebutuhan kalori
= 15% X 18720
kalori
Etotal = 2808 kalori
Protein 1 kal = Energi total : 4
= 2808 : 4
= 702 gram
Total Lemak
Etotal = 20% X Jumlah kebutuhan kalori
= 20% X
18720 kalori
Etotal = 3744 kalori
Lemak 1 kal = Energi total : 9
= 3744 : 9
= 416 gram
Total Hidrat
Arang
Etotal = 65% X Jumlah kebutuhan kalori
= 65% X
18720 kalori
Etotal = 12168 kalori
HA 1 kal = Energi Total : 4
= 12168 : 4
= 3042 gram
Untuk contoh persiapan menu silahkan menghubungi via email.
Thursday, September 27, 2007
Puncak Gandang Dewata 5 September 2007Berkelana dan berpetualang di alam bebas dalam paradigma masyarakat saat ini, masih milik para kaum adam. Hampir di semua organisasi pencinta alam pasti di dominasi oleh manusia berjakun ini. Hal ini jelas, karena kegiatan ini identik dengan ketangkasan, kemandirian dan keperkasaan. Kehadiran perempuan di organisasi tersebut karenya sangat minim. Tentu hanya sedikit perempuan yang mau kotor-kotoran, tentu hanya sedikit perempuan yang mau melakukan hal sulit ini, tentu tak banyak perempuan yang mau mengorbankan waktunya untuk hal yang tidak penting ini. Sebagian besar orang mengidentifikasikan perempuan yang aktif dalam kegiatan pencinta alam adalah sosok yang tomboy dengan fisik yang kuat dan kekar. Tetapi saya tidak sependapat dengan hal ini. Perempuan tetaplah perempuan yang memiliki sisi feminis. Dia tak harus berpenampilan layaknya laki-laki, dia tetap harus berpenampilan sebagai seorang perempuan. Ada limitasi yang harus di jaga, ada kodrat yang harus dijalankan, ada fitrah yang dikaruniakan yang membuat kaumku lebih dari kaum adam. Jika ada yang mengatakan bahwa perempuan yang ikut dalam kegiatan pencinta alam adalah perempuan yang mudah di peluk dan di cium, maka saya adalah orang pertama yang menentangnya. Saya mampu menjaga diriku sendiri. Saya mampu meredakan dingin dengan caraku sendiri, bukan dengan pelukanmu, bukan pula dengan kepulan asap rokok yang kerap kamu isap. Menjadi satu-satunya perempuan dalam suatu tim pendakian bukan lagi cerita baru bagi saya. Beberapa operasi saya jalani dan menjadi satu-satunya perempuan di dalamnya. Banyak yang meragukan, banyak yang menyangsikan bahkan banyak menakutkan sesuatu akan terjadi. Tetapi semua kembali kepada kepercayaan. Saya percaya pada mereka, para laki-laki yang bersamaku mendaki, bahwa mereka akan menjagaku. Oleh karena itu, hanya mereka yang menganggapku saudara yang akan menjadi patner mendakiku. Apabila mereka telah menganggapku saudara, maka mereka tak akan mencelakai saudaranya sendiri. Esensi organisasi pencinta alam adalah suatu kekuatan tekad untuk menjaga kelestarian alam. Dan perempuan, perempuan mempunyai kemampuan terhadap usaha pelestarian alam karena pada dasarnya perempuan mencintai kelangsungan hidup dan bukannya kematian, perempuanlah yang melahirkan anak, maka ia kenal betul arti sebuah kehidupan. Sudah seharusnya sebuah organisasi pecinta alam di dominasi oleh perempuan bukan laki-laki. Hidup perempuan!!!
Sunday, August 19, 2007
 Lokasi : Gunung Bawakaraeng Waktu : 17 Agustus 2007
Jauh kami berjalan Menapaki setiap jengkal Menaklukkan topografi ribuan meter
Biarkan peluh mengalir Biarkan punggung mengadu Biarkan paru-paru teriak Biarkan lutut terasa longgar Biarkan betis menjerit Biarkan....
Ketinggian ini harus kami selesaikan...
Kini... di Puncak ini... Takkan kami biarkan tiang itu nelangsa Tanpa tali yang mengantarkan Merah Putih... Berkibar di ujung tiang tertinggi di negeri ini...
Foto2 17-an di Gunung Bawakaraeng yang lain bisa dilihat disini Berita Upacara di Gunung Bawakaraeng baca : Merayakan Kemerdekaan di Puncak Bawakaraeng
Tuesday, July 24, 2007
Preng.. preng... preng... suara ompreng berpadu dengan sendok dan garpu terdengar bertalu-talu di sebuah ruang yang disebut ruang saji. Tiga tahun yang lalu..., suara khas itu setiap hari mengisi hari. Pagi, siang, malam. Kala lonceng dibunyikan, serentak kaki melangkah memasuki ruangan yang sangat luas itu, memilih meja dan menikmati sajian makanan yang begitu khas!
Hfuuu... dahulu, hal itu begitu memuakkan. makanan itu terasa sulit tertelan di tenggorokan. sate ikan, paku berkarat, dan nama kuliner lain yang sengaja dibuat mendeskripsikan jenis makanan yang disajikan alm.bu razak. Namun..., apa mau dikata, kami tetap menelanx. meski terkadang, dg. juli, dg. bara maupun warung di kota malino kerap menjadi pilihan demi sesuap kenikmatan.
Hal di atas hanya sebagian kecil kisah yang aku alami di sekolah ini, SMUN 02 Tinggimoncong, SMU Andalan Sulawesi Selatan. sebuah sekolah dengan brand yang cukup pamor di propinsi ini.
Tiga tahun, aku berada disini, bersekolah, menuntut ilmu. Aku masih begitu hapal topografi tempat ini, aku masih begitu kenal hawa daerah ini, aku begitu tahu warna-warni, bau hingga lantunan-lantunan yang diteriakkan tiap jengkal lokasi ini. Asrama, kelas, selasa, ruang saji, dapur, tangki air, angkat air, penampungan dan berbagai tags lain yang membuat hidup ini begitu bervariasi.
Bersekolah disini, membuatku berkenalan dengan mereka, para putra putri pilihan daerah. Mereka hebat, mereka pandai, mereka cerdas, mereka berbakat hingga membuatku minder. Aku hanya orang biasa saja, tak punya kehabatan, tdk begitu pandai, tak juga begitu cerdas. Mereka membuatku begitu kecil.
Dengan secuil kemampuan, aku mencoba menarik perhatian orang lain. Mencoba meyakinkan orang lain akan eksistensiku di sekolah ini. Bahwa orang kecil ini ada di antara mereka. Dengan berpenampilan sebagai Rhoma Irama disebuah acara pergelaran, hidupku seakan berubah. Aku menjadi begitu populer...
Ah... ternyata orang kecil sepertiku akhirnya bisa populer juga...

|
|
|