|about me| |myblog|


Friday, August 01, 2008
Gunung pun Tak Mengobati


Aku terkekang pada ketidakmampuanku. Jiwaku dikebiri oleh cita-cita dan pemikiranku sendiri. Aku dikecewakan oleh mimpi-mimpi dan obsesiku. Kebosanan dan kemirisan, kian lama menggoncangkanku. Aku terjatuh lagi. Aku kehilangan jiwa yang pernah menginspirasi orang lain. Langkah yang dulu mengangumkan, kini gontai.

Pertanyaan bertubi-tubi mengenai kapan aku menyelesaikan studi, makin memuakkan. Menetap di rumah hanya membuatku sesak. Lalu, aku ke kampus. Aku mendapati temanku sibuk menyelesaikan skripsi bahkan bersiap untuk memakai toga, sedangkan aku? Satu huruf dalam skripsiku pun belum ada. Seketika ruangan itu membuat tubuhku ringkih.

Aku memang payah. Tidak begitu mampu menghadapi kenyataan. Aku terbiasa berhenti. Menyingkir. Mencari pelarian. Setelah itu, kembali dengan harapan dan kekuatan yang baru.

Mataku terpaku pada sebuah foto. Pemandangan di atas puncak sebuah gunung, dimana langit terasa begitu dekat. Seorang gadis berdiri di sana. Senyumnya menunjukkan eforia. Yah, itu aku.

Dulu, perjalanan melewati hutan untuk mencapai puncak sebuah gunung adalah bagian hidupku. Mencium bau tanah basah yang begitu khas, menggapai awan yang terasa begitu dekat, memandang matahari terbit maupun tenggelam yang begitu indah. Mencoba meluluhlantahkan beban di hati dengan beban di pundak, mencapai puncak asa dan menyadarkan harapan bahwa kesempatan masih ada.

Sekarang, perjalanan itu membuatku sesak. Kakiku lemas menapaki bebatuan dan lumut-lumut basah. Tubuhku lunglai kala diselimuti dingin. Gunung dan dirinya adalah sesuatu yang tak bisa di pisahkan. Jiwaku meringis. Seperti ada petir yang menyambar-nyambar di atas kepalaku. Mengingatnya membuat duniaku gelap dengan mimpi buruk masa lalu. Dan gunung pun tak lagi mengobati bahkan menjadi penyebab goresan luka di sekujur jiwa dan hatiku.

Aku terkulai. Lemas. Tak berdaya. Seluruh dunia seakan tidak memihakku lagi. Tak satupun yang mampu menarikku dari lembah keputusasaan. Ku rasakan ada air yang menitik di pipiku, kian lama mengalir .....

Terlalu cengeng. Aku menyeka setetes air di pelupuk mataku. Aku masih memiliki satu dunia. Dunia kecil yang aku harap mampu menyambutku dengan pintu keajaiban. Pintu yang akan menghadirkan selaksa harapan. Disini, di dunia maya, aku berlari dari kenyataan, mencari napas baru, ketika gunung tak lagi mengobati.

Terkadang kita harus lari dari kenyataan, agar kita tetap berpijak pada kenyataan itu sendiri. Kita harus menciptakan dunia kecil yang kita kenal dengan baik sebagai oase kehidupan di tengah-tengah dunia yang tidak kita kenal ini. Karena dunia nyata terlalu rumit untuk dimengerti.


Posted at 12:20 am by in-art

L
August 24, 2008   12:11 AM PDT
 
ga segitunya kalee
Name
August 3, 2008   12:27 AM PDT
 
semangat yah Mbak...

btw foto ny keren banget tuh..

Karena dunia nyata terlalu rumit untuk dimengerti. <-- memang bener, jadi gak usah mengeerti dunia tapi biarkan aja dunia yang mengerti kita..hehe
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments







Previous Entry Home Next Entry
 



in-art
March 11th
Female
Makazzar







 
<< August 2008 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31

Liat Jam


Click to view my Personality Profile page

Awwards

Juara 3 Lomba Foto 17 Agustus 2007



Juara Favorit Lomba Foto 17 Agustus 2007
Namax Sapa?
Blognya?
Kesan&Pesan
thx to: bosoggix
:) :( :D :p :(( :)) :x

Jadwal Shalat

Friendster
  • -Winnie-[blog
  • -In-aRt-  [blog]
  •  

    My Others Blog
  • In-aRt Site - Multiply
  • The Winner
  • In-aRt
    Yahoo Messenger

    Posting
  • Different of me?
  • Susur Sungai : Dari Jembatan Tallo hingga Jembatan Tello
  • Sekilas tentang Pegunungan Latimojong
  • Mengaku Inart
  • Kalau Ajal, Mau di Apa?
  • Pemandangan Eksotik, Hadiah Tanah Tumbang di Lengkese
  • Belum Mengerti
  • jangan memaksa
  • Blog: Mengisi Ruang Kosong
  • Jangan Berhenti
  • Bis Kota
  • Keadilan Sosial (Sekejap) bagi Rakyat Miskin di Tugu Proklamasi
  • Kami ke Jakarta
  • Membangun Budaya Literer dengan Blog
  • Budaya Literer
  • Pilkada SulSel: Akhirnya, Golput yang Menang!
  • Halo di Langit MakassarMerindukan Puncak
  • Love come to...
  • SMS Lebaran
  • I knew I loved You
  • Sekilas Tentang Gandang Dewata
  • Persiapan Ransum
  • Perempuan Pencinta Alam
  • Ujung Tiang Tertinggi
  • Si kecil di SMUdama
  • Putondo...
  • Gunung Bawakaraeng
  • Sekilas tentang Gunung Bawakaraeng
  • Apakah Aku Seorang Mahasiswa?
  • Nginap di Pick Up
  • Seminar-Kongres IMPI
  • Pemantau UAN
  • Tugas Numpuk
  • Cukup!!
  • Terlalu Cinta
  • Bencana
  • Sms Ulang Tahun
  • kusut
  • 11 Maret 1997 - 11 Maret 2007
  • Banyak bicara = panjang umur
  • Valentine's Day
  • Dikdas dan Ormed XI
  • Happy Bday Mom&Pa..
  • Rumah Sokola diterjang Puting Beliung
  • Sms di awal Tahun
  • Berharap Penggantimu!
  • narsis-narsis di puncak gunung
  • Siput09: Rantemario, Peg. Latimojong
  • Taman Impian Jaya Ramma
  • Lebaran with Naya
  • Sms mengganti Kartu Lebaran
  • Resume Bubar (Buka Bareng)
  • Whats up with my world
  • Suatu Hari di Karebosi
  • Masih Terukir Namamu
  • Haji Bawakaraeng
  • Lintas Gunung Lompobattang - Bawakaraeng

     




  • Fren

    [Aan] [Achmad] [Ainuddin] [Amy] [Anbhar] [Arul] [Ascrec] [Auliah] [Budhie] [Chimara] [Chocox] [dhani] [Dhinyi] [Eni] [Evy] [Fawwaz] [Fian] [G] [Gihon] [Grunge09] [Hartanto] [Ibnu] [Ihs] [Ifool] [Ilomovic] [Imo] [Irha] [Jimpe] [K`Agha] [K`Indra nu kasep] [K`Ly] [Kasman] [Layudhi] [Mpie] [Ndy] [Nilam] [Nini-confuzzled] [Ntan] [Nyomnyom] [Ocha] [Pakkamponers] [Pandank] [Pepih] [Qui] [Rara] [Rusle] [Semut Hitam] [Slamet] [Sukri] [Sultra] [The-dew] [Tiza] [Toar] [Unieq] [WielSam] [Yulie] [Yunus] [Zhoel]




    Komunitas

    banner angingmammiri

    BlogFam Community



    CamelPark SEO tools - Google PageRank





     
    Contact Me

    If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




    rss feed