UAN SMA sederajat baru sj selesai, tadi sudah pada konvoi di tengah kota.
Hmm... UAN, 3 huruf ini memang kerap jd bahan gosip di akhir tahun. Mulai dari standar nilai yg naik setiap tahun, kecurangan di UAN sampai hal yang menyenangkan "lulus" atau menyedihkan "tidak lulus" hikz.
Standar nilai yang terus naik katanya untuk menyamakan dengan standar internasional. Kalau saya sih tidak masalah, mau tetap 3,5 atau standarnya 7. Tapi apakah memang sistem pendidikan kita saat ini bisa menjamin hal itu??? Apakah sistem pendidikan beserta personal yang terlibat bisa saling mendukung untuk ini??? Apakah sistem pendidikan sudah merata di seluruh daerah????
Sebagai mantan siswa yang notabene pernah ikut UAN, bagi saya, penaikan standar nilai itu malah makin membuka peluang terjadinya kecurangan dalam UAN. Siswa, Guru, Sekolah tentu tak sanggup menanggung malu apabila ada kata "tidak lulus". Berbagai kecurangan pun dilakukan.
Pemantau UAN
Akhir2 ini teman di kampus pada sibuk menjadi pemantau UAN. Pemantau ini bersifat Independent. Setiap pemantau mendapat honor 50rb perhari. Dengan perhitungan 5 hari maka akan mendapatkan homor sebesar 250rb (sapa yg mo ngasih uang segitu?)
Tapi yang membuat saya kurang sreg, (satu) kok di hitung 5 hr padahal cm mengawas selama 3 hr, (dua) dananya darimana?, (tiga) kenapa hoornya mesti di potong pajak? (empat) apa guna pemantau? bukankah sudah ada pengawas?
Menurut saya, tim pemantau tidak usah ada. Jika memang tim ini dibiayai diknas bukankah ini hanya berupa pemborosan semata. Bukankah ini hanya alasan untuk mengeluarkan anggaran untuk di korupsi??????