11 Maret 1997
“Sepuluh tahun yang lalu lahirlah seorang bayi
perempuan yaitu saya. Ulang tahun kesepuluh ini ku rayakan dengan cukup meriah
dengan biaya sendiri loh. Banyak juga hadiahnya sih, tapi lumayanlah karna saya
selalu merahasiakannnya. Bukuku banyak sekali karena banyak yang memberiku buku
tulis. Dan yang paling menghebokan hadiah dari ettaku, dia memberiku sesuatu
yang aku impikan dari dulu yaitu sebuah jam tangan. Betapa indahnya jam tangan
itu.
Aku sih ingin mengundang si Fuad tapi... ya malu ah,
masa sih diundang hanya dia yang lelaki, dianyakan malu...
Aduh saya senang banget hari ini daripada
segala-galanya. Bagi teman-temanku, etta, ibu, tante tati, ummu, wawan dan
meme, saya ucapkan terima kasih.”
Aku tersenyum
sendiri. Sepuluh tahun lalu aku menuliskan ini di sebuah buku harian yang juga
merupakan salah satu hadiah yang kuterima saat itu. Aku coba menampilkan tanpa
proses editing. Polos. Apa adanya.
Hadiah yang
menjadi orientasi mutlak, jelas terlihat. Betapa senangnya mendapatkan sebuah jam
tangan kala itu. Fuad, secret admirer
ku, tak luput tertuliskan. Ha ha ha. Lucu juga.
Kurang lebih
87640 jam, memang bukan waktu yang singkat. Mungkin aku telah bermetamorfosis
(kupu-kupu kale...), fisik, alur pikiran, perasaan...
Tak giat lagi
menyisihkan uang jajan demi merayakan milad sederhana dengan bugdet yang sudah
diperhitungkan jauh-jauh sebelumnya... karena tak lagi menganggap itu hal yang
mutlak, hal yang wajib, toh... tanpa satu perayaan pun aku tetap berganti usia
Tak lagi berharap
mendapatkan hadiah fisik yang melimpah ruah, jam tangan, buku tulis, pulpen
beraneka warna, tidak. Hanya doa yang kuharapkan kini. Doa yang meng-amin-i
segala keinginan, harapan, asa, obsesiku.
Tak lagi memiliki
secret admirer. Cinta tlah hilang. Kasih telah raib. Mati rasa.
Batu besar yang
dari dulu kutakutkan ‘kan menghantamku malah jauh lebih “tidak apa-apa” di
bandingkan kerikil-kerikil kecil yang di tebarkan sang bayu yang terus tertiup.
Pedih. Perih. Sakit. Mungkin hanya jarum jam yang bisa menceritakan semuanya,
bagaimana ribuan kerikil kecil menggugah idealisme ku dalam satu dekade ini.