Banyak bicara = panjang umur
Pak Alwi Rahman
pernah bilang “Orang yang banyak bicara itu panjang umur dan orang
yang pendiam itu cepat mati” dalam acara program pengembangan diri
paket B yang diadakan senat kamarin. Awalnya sih da percaya, tetapi
akhirnya saya mulai agak percaya saat berita bahwa kameramen SCTV,
Muh. Guntur meninggal, mengema di seluruh media.
Orang yang tanggal
lahirnya sama dengan tanggal lahirku ini, menurut rekannya di sctv,
sabar dan bersahaja. Da banyak bicara tapi pekerja keras. Ck ck ck..
hebat.
*Mulai merinding
Masalahnya, saya malas
bicara. Sampe-sampe waktu kecil dikirain bisu, gara-gara da pernah
bicara. Sering juga dijuluki “televisi rusak”, ada gambar, da ada
suara. Huahaha... parah...
Tapi apakah ini berarti
umurku akan singkat? Hanya Tuhan yang tahu.
Resiko hidup di
jaman sekarang memang sulit, kita harus mengenyam banyak narasi
besar. Mulai narasi plato, aristoteles sampe reformasi 98. Tapi kapan
ya saya yang menjadi bagian wacana itu? Tapi kalau umurku singkat,
bagaimana bisa? *Tepok jidat... mikir kok sampe di situ..
“Orang banyak bicara
panjang umur dan orang pendiam cepat mati” tak bisa di artikan
dengan pemaknaan sempit seperti itu.
Seorang Gie, bisa di
kata punya umur yang singkat. Ia meninggal di umur 20-an, tapi sampe
sekarang, dia masih di kenal, masih hidup, karena tulisannya. So...
kalau kamu da banyak bicara dan ingin panjang umur, ya... menulislah!
Ayo Inar..., menulis lagi...
Posted at 01:01 pm by
in-art